Friday, April 17, 2015

Sèmpak Rasa Malang #KAMPÉS #KÉMPAS

transferiority87.com - Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama, ras, dan adat istiadat. Selain dari keempat elemen yang termasuk dalam SARA tersebut, ada juga aspek geografis yang membuatnya terbagi dalam berbagai daerah, apalagi Indonesia juga negara kepulauan. Dengan kombinasi pembagian menurut geografis dan keempat elemen SARA, keunikan Indonesia menjadi jauh lebih beragam. Alhasil, bahasa daerah yang sudah ada pasti juga mengalami variasi yang disebabkan oleh pembagian geografis tersebut. Sebagai contohnya, bahasa Madura yang digunakan di pulau Madura pasti berbeda dengan yang digunakan oleh orang-orang berbahasa Madura di kota Pasuruan, Jawa Timur.
Begitu pula dengan bahasa Jawa, yang secara garis besar terbagi dalam wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Dan variasi bahasa Jawa tersebut masih terjadi lagi karena setiap kota juga memiliki keunikannya sendiri. Kali ini kita akan membahas sebuah kata yang masuk dalam khazanah bahasa Jawa gaya kota Malang. Kalau dalam bahasa Indonesia, kata ini memiliki arti celana dalam, yang bentuknya segitiga.
 
Celana dalam ini menurut bahasa Jawa biasa disebut dengan "Sèmpak". Sedangkan di kota Malang yang terkenal dengan bahasa Walikan, muncul variasi lain. Perlu diketahui, ciri khas utama dari bahasa Walikan adalah membaca sebuah istilah secara terbalik, alias dari belakang ke depan, misalnya "kamu" jadi "umak", "saya" jadi "ayas", dan sebagainya. Meskipun tentu saja tidak semua kata bisa dibaca dari belakang dan masuk dalam kategori bahasa Walikan. Untungnya, untuk "Sèmpak", aturan sederhana tersebut bisa diterapkan.
Jadi, istilah bahasa Walikan yang kita maksud ini adalah KAMPÉS. Pelafalan huruf "e" pada kata KAMPÉS sama seperti pelafalan huruf "e" pada kata "tes". Selain itu, ada variasi lain dari istilah "Sèmpak" dalam bahasa khas Malang ini, yakni KÉMPAS. Istilah yang kedua ini menunjukkan salah satu karakteristik dari bahasa yang biasa disebut arbitrary atau semaunya atau berubah-ubah, karena penerapannya tidak mengikuti aturan dasar dan utama bahasa Walikan.


0 comments:

Post a Comment